Menentukan budget iklan sering jadi masalah utama pemula. Banyak yang takut boncos, tidak tahu harus mulai dari angka berapa, dan bingung cara menghitungnya. Karena itu, memahami cara menentukan budget iklan sejak awal penting supaya tidak hanya buang uang, tapi benar-benar mendapat hasil yang sesuai target.
Artikel ini membahas panduan yang sederhana, realistis, dan cocok untuk bisnis kecil atau pemula yang baru mulai menggunakan digital ads. Kamu akan belajar faktor apa saja yang mempengaruhi biaya iklan, cara menghitungnya, sampai rekomendasi budget awal yang masuk akal di Indonesia.
Kenapa Menentukan Budget Iklan Itu Penting?
Budget iklan bukan sekadar angka. Ia menentukan seberapa besar visibilitas yang bisa kamu dapatkan dan seberapa cepat hasil kampanye terlihat. Jika budget terlalu kecil, iklan tidak sempat “belajar” dan hasilnya tidak stabil. Jika terlalu besar tanpa perhitungan, kamu bisa menghabiskan uang tanpa arah.
Budget yang tepat membantu:
- Mengontrol biaya per hasil (CPA/CPR)
- Menjaga ROI tetap sehat
- Memastikan iklan berjalan efisien
- Memudahkan pengambilan keputusan saat scale
Contoh sederhana:
Sebuah UMKM kuliner ingin mendapatkan 50 pelanggan baru. Jika rata-rata biaya per konversi (CPA) di platform iklan sekitar Rp15.000, maka perkiraan anggaran minimalnya adalah Rp750.000. Tanpa estimasi seperti ini, bisnis bisa salah mengira bahwa Rp100.000 sudah cukup, padahal tidak realistis.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Budget Iklan
1. Tujuan iklan
Tujuan iklan berbeda, dan setiap tujuan punya range biaya berbeda:
- Awareness → paling murah (reach tinggi, hasil cepat)
- Traffic → menengah
- Leads / WhatsApp → lebih mahal
- Penjualan → paling mahal, karena butuh optimasi ekstra
Pemula sering bingung karena memilih objektif yang tidak sesuai kemampuan budget.
2. Industri & tingkat persaingan
Kategori seperti properti, pendidikan premium, kesehatan, atau keuangan biasanya punya CPC/CPR lebih tinggi dibanding kategori kuliner, fashion, atau produk lokal.
Semakin ramai kompetitor yang beriklan, semakin mahal biaya hasilnya.
3. Harga per klik (CPC) atau CPR rata-rata
Ini salah satu acuan paling penting.
Contohnya:
- CPC Google Ads: Rp500 – Rp4.000
- CPR Meta Ads (WhatsApp): Rp5.000 – Rp20.000
- CTR TikTok Ads bisa naik-turun tergantung kreativ yang digunakan
Tanpa data rata-rata ini, kamu hanya menebak-nebak budget.
4. Target audiens
Audiens yang sempit biasanya lebih mahal karena ruang iklan terbatas.
Audiens terlalu luas juga bisa mahal karena tidak relevan.
Untuk pemula, audiens moderate (tidak terlalu sempit) biasanya lebih efisien.
5. Kualitas landing page
Traffic yang bagus percuma kalau landing page:
- lambat,
- tidak jelas CTA-nya,
- atau tidak meyakinkan.
Landing page yang buruk bisa membuat CPA dua kali lipat lebih mahal.
Cara Menentukan Budget Iklan untuk Pemula (Langkah Demi Langkah)
Bagian ini dibuat sesederhana mungkin agar pemula bisa langsung praktik.
1. Tentukan tujuan iklan
Contoh tujuan:
- Dapatkan 100 leads WhatsApp
- Dapat 1.000 pengunjung website
- Jual 50 produk
Tujuan harus spesifik agar perhitungan budget lebih akurat.
2. Hitung biaya rata-rata per hasil
Gunakan data umum seperti:
- Meta Ads (CPR WhatsApp): Rp8.000 – Rp15.000
- Google Ads (CPA search): Rp10.000 – Rp30.000
- TikTok Ads (CPV/CTR murah, CPA bervariasi): Rp5.000 – Rp20.000
Jika kamu tidak punya data, ambil angka rata-rata industri sebagai acuan awal.
3. Perkirakan hasil minimal yang diinginkan
Misalnya kamu ingin 100 leads.
Jika CPR rata-rata Rp10.000 → biaya minimal Rp1.000.000.
Contoh lain:
- Target penjualan 50 produk
- CPA rata-rata Rp20.000
- Total budget minimal Rp1.000.000
Ini bukan angka pasti, tapi titik awal yang realistis untuk testing.
4. Tentukan budget harian & bulanan
Setelah tahu total budget, pecah ke harian.
Contoh:
- Total Rp1.000.000
- Durasi 30 hari
- → Budget harian Rp33.000
Namun untuk Meta Ads, idealnya minimal Rp50.000 – Rp100.000/hari agar algoritma stabil.
Jika budget terlalu kecil, iklan tidak akan keluar optimal.
5. Lakukan A/B testing kecil sebelum scale
Jangan langsung keluarkan semua budget di awal.
Mulai dengan 20–30% untuk testing 3–5 hari:
- 2 variasi kreatif
- 2 audiens
- 1 objective
- 1 landing page
Hasil testing akan menentukan setup mana yang layak di-scale.
Contoh Perhitungan Sederhana
Target: 100 leads WhatsApp
CPR rata-rata: Rp10.000
Total budget minimal:
100 × Rp10.000 = Rp1.000.000
Jika ingin aman, tambahkan buffer 20% → total sekitar Rp1.200.000.
Pembagian harian:
- Durasi 20 hari → Rp60.000/hari
- Durasi 30 hari → Rp40.000/hari
Contoh UMKM lain:
Target: 30 transaksi
CPA rata-rata: Rp20.000
Budget: 30 × 20.000 = Rp600.000
Angka seperti ini jauh lebih realistis dibanding menebak “Rp50.000 cukup atau tidak”.
Rekomendasi Budget Awal untuk Pemula di Indonesia
Data ini bukan patokan pasti, tapi kisaran yang paling sering digunakan bisnis kecil.
1. Google Ads
- Search Ads UMKM: Rp50.000 – Rp150.000/hari
- Retargeting Display: Rp20.000 – Rp50.000/hari
- Branded keywords: Rp10.000 – Rp30.000/hari
(Search Ads perlu budget lebih besar karena CPC lebih tinggi.)
2. Meta Ads (Facebook/Instagram)
- Leads WhatsApp: Rp50.000 – Rp150.000/hari
- Awareness: Rp20.000 – Rp50.000/hari
- Sales (e-commerce): Rp80.000 – Rp200.000/hari
Meta Ads paling fleksibel untuk pemula karena algoritmanya cepat belajar.
3. TikTok Ads
- Awareness & traffic: Rp20.000 – Rp50.000/hari
- Leads/Conversions: Rp50.000 – Rp120.000/hari
TikTok sangat bergantung pada kualitas video kreatif.
Kesalahan Umum Pemula Saat Menentukan Budget Iklan
1. Meniru kompetitor tanpa riset
Melihat kompetitor beriklan besar, lalu ikut-ikutan. Padahal kondisi bisnis berbeda.
2. Memulai dengan budget terlalu kecil
Budget terlalu kecil membuat:
- iklan susah keluar,
- hasil lambat,
- data tidak stabil.
Meta Ads misalnya sering butuh minimal Rp50.000 – Rp100.000/hari untuk objektif leads.
3. Tidak menyiapkan biaya testing
Banyak pemula ingin hasil langsung bagus, tanpa testing kreatif atau audiens.
Padahal fase testing wajib dan butuh minimal 20–30% total budget.
4. Mengganti campaign terlalu cepat
Campaign baru butuh waktu belajar 3–7 hari.
Jika terlalu cepat diubah, datanya tidak akurat.
5. Tidak mengevaluasi hasil
Tanpa evaluasi, kamu tidak tahu mana audiens paling bagus atau iklan mana yang paling efisien.
Tips Agar Budget Iklan Lebih Efisien
- Gunakan targeting yang spesifik tapi tidak terlalu sempit
- Gunakan negative keywords untuk Google Ads
- Optimalkan konten kreatif
- Pastikan landing page cepat dan relevan
- Mulai dari kecil, scale secara bertahap
- Pantau data setiap 2–3 hari, jangan setiap jam
- Gunakan 1 objective per campaign
Dengan langkah-langkah ini, biaya per hasil bisa jauh lebih rendah dan stabil.
Menentukan budget iklan sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Kuncinya adalah memahami tujuan, mengetahui biaya rata-rata, dan menghitung kebutuhan berdasarkan hasil yang ingin dicapai. Dengan pendekatan yang terstruktur seperti di artikel ini, pemula bisa menghindari risiko boncos dan menjalankan kampanye iklan yang lebih efisien.
Jika kamu membutuhkan bantuan mengatur strategi digital ads, RealNih Digital siap membantu menyusun campaign yang lebih terukur dan hemat biaya.